Rabu, 18 Januari 2017

Cerita Warga yang Mendengar Suara Gemuruh Sebelum Terjadi Longsor di Kendal


TRIBUNJATENG.COM, KENDAL -Suwarso, warga RT 01/RW 04 Desa/Kecamatan Limbangan, Kendal, menyangka rumah tetangganya longsor terbawa arus sungai.
Pukul 17.30 WIB, Suwarso mengaku mendengar gemuruh di antara suara deras hujan. Karena penasaran, ia pun memberanikan diri untuk keluar rumah.“ Saat keluar rumah dan cari tahu, ternyata rumah Suntoro longsong terbawa arus sungai," kata Suwarso, Selasa (17/1).
Hujan deras yang mengguyur kecamatan Limbangan menyebabkan separuh bangunan rumah milik Suntoro (46) dan Yamaroh (40), roboh akibat longsor.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal, Sigit Sulistyo, menjelaskan, dua rumah yang berada di pinggir talud tersebut longsor akibat intensitas hujan yang tinggi pukul 12.30 sampai 18.00 WIB sehingga menggerus talud.
"Posisi rumah berada di sepadan sungai sehingga mudah longsor, apalagi intensitas hujan sangat tinggi,” kata Sigit, Selasa (17/1).
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun bangunan rumah roboh terbawa material longsor dengan panjang kurang lebih 20 Meter, tinggi 4 Meter ini menyebabkan kerugian sekira Rp 150 juta.
"Sementara korban dievakuasi ke rumah orangtuanya di DesaTamanrejo. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan sekitar lokasi di pasang garis police line dari polsek," jelasnya.
Longsor juga terjadi di Kabupaten Semarang. Rumah dua orang menjadi korbannya, yakni milik Tularno, warga Kaligawe RT 06 RW 05 dan Mulyono, warga RT 06 RW 07 Desa/Kecamatan Susukan.
Selasa (17/1) kemarin, Wakil Bupati Semarang, Ngesti Nugraha menyerahkan bantuan sosial (bansos) kepada dua korban tanah longsor itu. Tularno mendapat dana bansos Rp 5 juta, sedangkan Mulyono Rp 3 juta. Besaran bansos yang diterima berbeda, sesuai tingkat kerusakan bangunan.
"Kerusakan bangunan milik Tularno tergolong sedang. Kalau rumah pak Mulyono termasuk ringan. Jadi beda (besaran bansos)," kata Kepala Seksi Logistik dan Kebencanaan BPBD Kabupaten Semarang, Joner Hutajulu.
Usai menyerahkan dana bansos secara simbolik, Ngesti beserta Kapolres Semarang, AKBP Vincentius Thirdy Hadmiarso, dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Semarang, Bambang Kusriyanto menengok lokasi longsor yang sempat menutup akses jalan Kaligawe-Mluweh. (TRIBUNJATENG/CETAK)

Polisi Tangkap Petani di Demak yang Jualan Togel



Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almanaf
TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Merasa pendapatannya sebagai petani belum bisa memenuhi kebutuhan, pria 30 tahun ini mengaku terpaksa mencari sumber pemasukan lain dengan menjual kupon judi togel.
Dialah Edi Mulyanto, warga Desa Jragung, Karangawen, Demak. Pria 32 tahun itu mulai berbisnis togel sejak sepuluh bulan lalu di rumahnya.
"Saya diajak teman saya untuk jualan (togel) di rumah, komisinya 30 ribu sampai 40 ribu dalam sehari," terang Edi, Rabu (18/1/2017).
Komisi itu ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Edi sadar perbuatannya melanggar hukum, namun menurutnya ia tidak punya pilihan lain.
Senin (9/1/2017) lalu ia terpaksa digelandang ke Polres Demak lantaran tertangkap sedang menjual togel. Dari tangannya diamankan barang bukti sebesar Rp 250 ribu, empat bendel rekapan penjialan nomor, satu buah pena, dan satu lembar kertas karbon.
Kini, Edi dijerat dengan pasal 303 KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal sepuluh tahun. (*)

Sedihnya Saat Tengah Malam Tiba-tiba Mobil Mogok Di Jalanan Sepi



TRIBUNJATENG.COM, REMBANG - Sebelum berangkat alangkah baiknya melakukan pengecekan beberapa hal pada kendaraan supaya lancar di perjalanan. Sebut saja Sahid warga Rembang tak menyangka mobilny akan mogok di perjalanan.
Entah sebab apa, mobil sedan itu tiba-tiba mogok di tengah jalan, Senin malam (17/1). Tepatnya di jalan lingkar timur turut tanah desa Tireman Kabupaten Rembang, malam hari.
Sudah dilakukan pengecekan oleh Sahid namun tak menemukan apa penyebab mesin mati. Kap mobil dibuka dan dilihat satu persatu di bagian mesin dan aki juga belum ditemukan penyebabnya.
Beruntung datang dua anggota Sat Sabhara Polres Rembang yagn kemudian bantu dorong mobil mogok itu untuk dipinggirkan.
Tadi malam polisi itu sedang berpatroli malam hari. Mereka yaitu Briptu Jatmiko dan Briptu Yoki yang melaksanakan patroli kemudian menemukan mobil S 1057 HD sedang mogok di pinggir jalan dari arah Selatan menuju arah Utara.
Polisi itu segera turun dari kendaraannya lalu membantu dorong mobil tersebut. Setelah berbincang-bincang dengan pengemudi yang kemudian diketahui bernama Pak Sahid kemudian polisi coba bantu ngecek kondisi mesin mobil yang mogok itu. Sahid diketahui sebagai warga Desa Jurangjero, Sluke, kabupaten Rembang.
Ternyata mobilnya mogok dalam perjalanan dari Cepu Kabupaten Blora hendak pulang ke Rembang. Menurut Sahid, sejak sore menunggu keluarga dari Sluke tapi tak kunjung tiba dan berusaha memperbaiki mobil itu namun belum bisa.
"Jreeeng" mesin pun bisa dihidupkan setelah polisi itu memperbaiki di bagian kabel sambungan aki.
Kapolres Rembang AKBP Sugiarto katakan, apa yang dilakukan oleh dua anggotanya sebagai bentuk aplikasi bahwa Polri sebagai Pelindung, Pengayom, dan Pelayan masyarakat. (tribunjateng/humas polres rembang)

Siang Ini Digelar Debat Paslon Bupati Brebes, Polres Kerahkan 500 Personel Pengamanan


TRIBUNJATENG.COM, BREBES - Wakapolres Brebes Kompol Mashudi SH memimpin pelaksanaan Apel Kesiapan Pengamanan Debat Publik Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Brebes tahun 2017, Rabu (18/1/2017).
Apel dilaksanakan di halaman Mapolres Brebes yang diikuti oleh 500 personel gabungan dari Polri, TNI, Satpol PP dan Dinas Perhubungan.
Debat Publik akan diikuti oleh dua paslon Bupati dan Wakil Bupati Brebes yaitu Suswono-Mustaqim dan Idza Priyanti-Narjo. Debat paslon akan digelar Rabu siang ini di Gedung Korpri jalan MT Haryono Brebes.
Wakapolres Brebes dalam apel menekankan bahwa personel yang terlibat harus menempatkan diri sesuai ploting yang telah ditentukan.
Mulai dalam gedung lokasi debat, halaman gedung, luar gerbang dan rute menuju gedung Korpri. Setiap anggota harus waspada dan tanggap akan setiap perkembangan situasi yang berkembang.
"500 personel kami siagakan untuk pengamanan debat paslon siang ini. Semua anggota harus fokus pada pengamanan," tegas Mashudi. (tribunjateng/humas polres brebes)

Dandim Demak Melukir Jabatan Danramil Sayung dengan Pasiter


Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almanaf
TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Dandim Demak, Letkol Inf Agung Udayana melukir jabatan (Perwira Seksi Teritorial) Pasiter Kodim Demak dengan Danramil 11 Sayung Rabu (18/1/2017). Serah terima jabatan dilangsungkan di Makodim Demak dan dihadiri seluruh Danramil, jajaran Kodim Demak beserta seluruh Pasi Kodim Demak.
Kapten Arh Jayadi yang semula menjabat Pasiter Kodim Demak secara definitif sekarang menjabat sebagai Danramil 11 Sayung, sedangkan Kapten Inf Mulyadi yang semula menjabat Danramil 11 Sayung, berganti tugas menjabat Pasiter Kodim 0716/Demak.
Lulusan Akmil angkatan 96 ini meminta kepada pejabat yang baru untuk segera beradaptasi dengan ruang lingkup kerjanya yang baru, agar bisa menyusun rencana kerja dan menyesuaikan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) masing-masing.
"Setiap penyusunan rencana kerja harus dilakukan dengan cermat dan berpandangan luas dalam menyikapi permasalahan administrasi ataupun wilayah kerja, khususnya bagi jabatan Danramil," terang Agung seperti dikutip rilisnya.
Kepada Pasiter Kodim Demak yang baru ia meminta untuk segera menyesuaikan dengan alur kerja yang sudah ditetapkan oleh Komando Atas, serta bekerjasama dengan staf Kodim Demak yang ada dalam ruang lingkup kerjanya.
"Dalam mengambil setiap keputusan harus selalu melihat dari berbagai sudut pandang, baik dampak positif maupun negatifnya, dan setiap ketetapan harus dilakukan sesuai dengan rencana kerja yang sudah dibuat," tambah Agung.
Ia berharap Kapten inf Mulyadi selaku Pasiter yang baru agar memprioritaskan permasalahan kualitas SDM prajurit khususnya Babinsa dan Danramil. "Adanya keterbatasan sarana prasana yang dibutuhkan kususnya peralatan, masalah ketersediaan pupuk bersubsidi di beberapa wilayah mengalami kekurangan saat musin tanam adalah tantangan," bebernya. (*)

Gubernur Ganjar: Sekarang Pemadam Kebakaran Dikendalikan oleh Satpol PP


TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, meminta pada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Provinsi hingga Kabupaten dan Kota, terlibat aktif serta sigap dalam penanggulangan bencana di daerahnya masing-masing, utamanya bencana kebakaran.
Sesuai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang baru, Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk tingkat Kabupaten dan Kota ada di bawah kendali Satpol PP. Berbeda dengan sebelumnya ada di bawah koordinasi BPBD.
Sedangkan untuk tingkat Provinsi, bidang penanganan kebakaran tetap berada di bawah koordinasi BPBD, bukan Satpol. Maka agar koordinasi penanganan kebencanaan di daerah bisa cepat, Ganjar minta dibuat regulasi baru supaya BPBD Provinsi bisa melakukan koordinasi dengan Satpol di daerah.
“Satpol PP dan Damkar, bareng dengan BPBD, saya minta dibuatkan regulasi baru, agar semua kebencanaan bisa terkover, dan regulasi di Jateng ini bisa dijadikan contoh,” katanya saat hadir dalam rapat koordinasi penanganan bencana banjir, tanah longsor, dan sinergi penanganan bencana kebakaran, di kantor BPBD Jateng, Selasa (17/1).
Ganjar mengatakan, personel Satpol PP masih banyak yang belum memiliki keahlian penanganan kebencanaan. Maka diperlukan latihan gabungan secara rutin, antara Satpol PP, Damkar, BPBD, serta melibatkan TNI dan Polri.
“Rakor ini untuk menjadikan bila suatu ketika ada bencana semuanya harus turun,” ungkapnya.
Menurutnya, sepajang tahun 2016, BPBD Jateng mencatat, ada sejumlah 2.112 kejadian. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun 2015 lalu yang mencapai 1.573 kejadian atau meningkat 34,26 persen.
Sejumlah 2.112 kejadian tersebut, peristiwa banjir ada 296 kali, longsor 927 kali, kebakaran 468 kali, angin topan 419 kali. Total kerugian materil ditaksir mencapai Rp 3,235 triliun.
Sedangkan pada periode 1 Oktober 2016 sejak ditetapkan status siaga darurat bencana hingga 16 Januari 2017, sudah terjadi 803 kejadian bencana, dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp 150 miliar.
Ia juga menyebutkan, setidaknya terdapat 1.674 desa/kelurahan yang masuk kategori daerah rawan banjir, 2.136 desa/kelurahan rawan tanah longsor.
“Untuk daerah yang rawan bencana, sudah dilakukan mitigasi bencana secara berkala. Tapi kalau warganya tak mau pindah atau direlokasi, ya upayanya harus selalu waspada,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng, Sarwa Pramana, mengatakan, adanya penambahan kewenangan Satpol PP dalam penanganan kebencanaan yakni kebakaran, diharapkan para Kepala Satpol PP dapat rutin memberikan pembekalan keterampilan pada personelnya.
“Kalau perlu kita beri ilmu penanganan kebakaran, seperti keahlian yang dimiliki BPBD. Dan saya sudah siapkan program untuk peningkatan keahlian personel Satpol,” katanya.
Ia berharap, meski ada kewenangan baru di Satpol PP dan BPBD, diharapkan ketika ada bencana keduanya tetap terjun bersama. “Harapan kami nggak ada sekat antara Kepala Satpol dan BPBD, kalau ada bencana bisa sama-sama turun ke lapangan,” ungkapnya. (tribunjateng/had)

Tengkleng dan Sate Kambing "Pak Manto" Solo Kini Hadir di Semarang


TRIBUNJATENG.COM- Salah satu warung sata kambing yang menjadi destinasi wisata kuliner di Solo, Warung Sate Pak Manto, kini hadir di Semarang.
Sejak Senin (16/1/2017), cabang di Semarang itu resmi dibuka.
Warung tersebut terletak di Ventura Taman Kuliner, Jalan Ki Mangun Sarkoro, tepatnya di depan Stadion Diponegoro.
Menu tengkleng rica-rica masih menjadi unggulan di warung milik Sumanto itu. Berpusat di Jl Honggowongso, kawasan Pasar Kembang, Sumanto telah membuka dua cabang.
"Pertama di Waroeng Kroepoek, Jl dr Radjiman, kedua ini di Semarang," kata Sumanto, Rabu (18/1/2017).
Berbagai menu daging kambing disajikan di Warung Sate Pak Manto.
Menu tersebut, antara lain rica-rica sumsum kambing, tengkleng rica-rica, tongseng.
Warung Sate Pak Manto di Semarang juga menerima pesanan, yakni melalui nomor telepon 08156577667. (Tribunsolo)

Rabu, 12 Oktober 2016

Kisah Petani Tembakau di Boyolali Dapat Rumah dari Lomba Trail


Komandan Kodim (Dandim) 0724/Boyolali, Letkol (Arh) Nova Mahanes Yudha, menyerahkan hadiah sertifikat rumah kepada pemenang lomba terabas Delta 1, Joko Suranto (tengah), 45, warga Kujon, Wonodoyo, Cepogo, Boyolali, di Markas Kodim 0724/Boyolali, Selasa (11/10/2016). (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos) 
Petani tembakau asal Wonodoyo, Boyolali, Joko Suranto, mendapat hadiah rumah dalam lomba terabas motor trail yang diadakan Kodim Boyolali.
Solopos.com, BOYOLALI — Memakai kaus berkerah, celana jeans panjang warna hitam, dan sandal selop kulit, Joko Suranto, 45, warga Dukuh Kujon, Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo, Boyolali, menyambangi Markas Kodim 0724/Boyolali, Selasa (11/10/2016) pagi.
Wajah petani tembakau dan sayuran itu terlihat senang, senyum mengembang di bibirnya. Bagaimana tidak bahagia?
Bermodal iseng mengikuti ajang terabas motor Delta 1 yang diselenggarakan Kodim 0724/Boyolali dan Komunitas Trail Boyolali pada Minggu (9/10/2016) lalu, Joko mendapat hadiah rumah di Kragilan, Mojosongo, Boyolali.
“Baru kali ini saya ikut kompetisi motor trail. Hanya iseng sebenarnya, tapi alhamdulillah dapat hadiah rumah, saya senang sekali,” kata Joko, saat berbincang dengan Solopos.com, kemarin.
Bagi Joko, terabas motor bukan hal asing. Olahraga ini sebenarnya berisiko tinggi. Namun, kebanyakan petani di lereng timur Gunung Merapi sudah sangat terbiasa menggunakan motor-motor trail untuk menjangkau ladang atau kebun.
Joko sudah tidak kaget dengan rute terabas yang dibuat penyelenggara lomba. “Hari Minggu kemarin pas tidak ada kegiatan karena baru selesai musim panen tembakau, saya ikut terabas.”
Hadiah rumah senilai Rp165 juta akan dia manfaatkan sendiri. Meskipun jauh dari domisili asal, dia berharap rumah itu bisa menjadi aset mengingat anak-anaknya sudah besar dan ada kemungkinan ingin hidup mandiri nantinya.
Rumah Joko di Wonodoyo saat ini ditinggali enam orang. “Keluarga saya dan keluarga orang tua saya. Hadiah rumah ini benar-benar rezeki yang tak terduga,” ujar dia.
Selain Joko, ajang Delta 1 juga menawarkan hadiah utama dua mobil pikap. Anggota Satlantas Polres Wonogiri, A.D. Bank Harta, berhasil membawa pulang satu mobil pikap tersebut.
“Biasanya kalau ikut ajang terabas, hadiahnya paling hanya motor, sepeda onthel, namun kali ini dapat mobil pikap. Saya sendiri masih bingung mobil pikap ini akan saya manfaatkan untuk apa? Mungkin buat mengangkut motor trail kalau mau terabas ke luar kota,” ujar Bank Harta.
Komandan Kodim 0724/Boyolali, Letkol (Arh) Nova Mahanes Yudha, mengatakan terabas Delta 1 digelar dalam rangka HUT ke-71 TNI. Delta 1 dibagi dalam dua sesi acara yakni private trip pada Sabtu (8/10/2016) dan lomba terabas untuk peserta umum.
Rute terabas dari Kompleks Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali ke arah Cepogo dan Selo sampai Bukit Gancik. Peserta melewati jalur hutan, ladang, bahkan sungai.
Delta 1 bukan semata ajang lomba namun juga memperkenalkan potensi wisata di lereng Merapi dan Merbabu. “Ada tiga rute tanjakan berhadiah namun rute paling ekstrem kami buat di jalur Suroteleng Selo,” ujar Nova.
Lomba itu diikuti 2.500 peserta. Selain hadiah utama rumah dan mobil pikap, beberapa peserta juga membawa pulang hadiah paket umrah dan lima sepeda motor


Mahasiswa Boyolali Raih Penghargaan Bergengsi Berkat Gula Kulit Singkong


Abdul Azis (tengah) bersama orang tuanya. Mahasiswa IPB itu meraih berbagai penghargaan berkat temuannya berupa gula dari kulit singkong. (Aries Susanto/JIBI/Solopos)
Anak penggembala kambing di Boyolali ini mendapat penghargaan bergengsi dari Asia dan Eropa berkat temuannya.
Solopos.com, BOYOLALI — Rumah gedek RT 002/ RW 007 Desa Kismoyoso, Ngemplak, Boyolali, itu berlantai tanah. Tak ada perabotan berharga di dalamnya, selain TV tabung kuno 14 inci.
Seorang perempuan tua duduk di teras membuat kreneng, sejenis anyaman bambu pembungkus pisang. Tak berselang lama, pria sepuh berusia 70-an tahun melangkah tergopoh-gopoh menuju ruang tamu menemui Solopos.com yang mengunjungi rumahnya, Rabu (12/10/2016) itu.
Saparin adalah ayah dari delapan anak. Kehidupan ekonominya yang pas-pasan membuat ketiga anaknya hanya menamatkan SD. Empat anak lainnya lulus SLTA.
Hanya satu anaknya yang mampu kuliah di perguruan tinggi dengan beasiswa. Dialah Abdul Azis, 23, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menjadi inisiator penemuan gula berbahan kulit singkong.
Berkat penemuan inilah, anak ketujuh ini meraih penghargaan bergengsi dari negara-negara di Asia dan Eropa, mulai dari Tiongkok, Taiwan, hingga Polandia. Selain berhasil menemukan gula alternatif yang tingkat kalorinya lebih rendah dari gula tebu, Azis juga diacungi jempol lantaran berhasil memanfaatkan sisa-sisa sampah kulit singkong.
“Saya semula enggak tahu kalau anak saya masuk TV dapat penghargaan. Saya tahunya dari tetangga yang lagi nonton TV,” kisah Saparin.
Sejak kecil, kata Saparin, Abdul Azis memang terlihat berotak encer. Di sekolahnya, Azis tak pernah absen mendapatkan beasiswa. Begitu pun saat kuliah di IPB.
Saparin sama sekali tak pernah mengeluarkan uang untuk anaknya itu. Untuk indekos dan biaya hidup sehari-hari, Azis nyambi menjadi guru privat. “Sampai sekarang pun saya belum pernah ke Bogor. Uang dari mana? Untuk makan sehari-hari saja, saya disumbang raskin,” ujarnya.
Ketika Azis lulus dari Madrasah Aliah (MA) Al Islam Jamsaren, Saparin gembira sekali. Anaknya itu mendapatkan beasiswa kuliah di IPB.
Saking gembiranya, Saparin sampai harus mengayuh sepeda onthel dari rumahnya di Kismoyoso, Ngemplak, ke Jamsaren. “Saat itu, tubuh saya diangkat beramai-ramai siswa-siswa sekolah,” kisahnya.
Saparin tak mengeluh meski ekonominya hingga kini tetap pas-pasan. Sepanjang usianya, Saparin menjadi buruh tani untuk menghidupi anak-anaknya. Kini, dengan usianya kian senja, Saparin tak lagi kuat menjadi buruh tani. “Sekarang, saya angon kambing yang dibelikan anak-anak,” jelasnya.
Untuk menambah pendapatan, istrinya, Istiqomah, setiap hari membantu membikin kreneng. Jika cepat, istrinya mampu membikin 50 unit krenengdalam dua hari. “Pembeli ambil 50 kreneng seharga Rp20.000. Tapi, bahannya beli sendiri,” terangnya.
Kepada Solopos.com, Azis menjelaskan temuannya itu berawal dari konsep “zero waste” atau bebas sampah. Hal itu terinspirasi banyaknya sampah kulit singkong pabrik tapioka di Ciluar, Bogor.
Dari situ, Azis mengajak teman-temannya melakukan penelitian mengolah kulit singkong menjadi gula.
“Kami lantas ikut lomba MIIIE [Macau International Inovation and Invention Expo] di Tiongkok akhir 2015 lalu. Peserta dari seluruh dunia,” jelas dia.
Tak dinyana, penemuan Azis memenangi sayembara. Penghargaan dari sejumlah negara pun mengalir, termasuk dari Gubernur Jawa Tengah.
Azis tercatat telah menggondol medali emas dari Macau International Inovation and Invention Expo (MIIIIE) 2015. Dia juga dianugerahi special award dari World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA) di Taiwan, 2015. Dalam waktu bersamaan, ia juga diganjar penghargaanspecial award dari International Warsaw Invention Show (IWIS), Polandia, 2015, dan special award dari International Intellectual Property Network Forum (IIPNF) 2015.
Pengujung Agustus 2016 lalu, Azis bersama timnya dianugerahi penghargaan oleh Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, setelah didaulat menjadi pembicara di hadapan alumni Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Indonesia di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

aadd

700 Anak TK Minum Susu Bareng di Banyudono


Siswa dan siswi Taman Kanak-Kanak (TK) se-Kecamatan Banyudono, Boyolali, minum susu sapi serentak di halaman SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono, Sabtu (31/1/2015). (Muhammad Irsyam Faiz/JIBI/Solopos)

Pendidikan Boyolali kali ini tentang kegiatan minum susu serentak yang diadakan di SD Muhammadiyah PK Banyudono.
Solopos.com, BOYOLALI – Sebanyak 700 siswa-siswi TK se Kecamatan Banyudono mengikuti kegiatan minum susu bareng di halaman SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono, Sabtu (31/1/2015), pukul 08.00 WIB.
Menurut kepala sekolah SD Muhammadiyah PK Banyudono, Pujiono, mengatakan kegiatan minum susu serentak ini digelar rutin setiap tahun. Kegiatan ini untuk mengingatkan kembali kepada para orang tua bahwa minum susu itu penting.
“Apalagi Kabupaten Boyolali itu kan terkenal dengan susunya, jadi kalau bisa anak-anak di sini harus rajin minum susu, terutama produksi Boyolali,” kata dia.
Pujiono mengatakan susu yang disediakan sengaja didatangkan dari produk lokal yakni dari Kecamatan Mojosongo Boyolali. Dia berharap, kegiatan ini bisa menjadi awal bagi orang tua untuk mengajarkan kepada anak-anaknya untuk minum susu secara rutin.
Salah seorang wali murid yang ikut hadir mendampingi anaknya, Ani, 27, mengatakan anaknya terbiasa minum susu kemasan.
“Kalau susu sapi yang seperti ini [produksi Boyolali] jarang minum, biasanya minumnya yang sudah dalam kemasan,” ungkap orang tua dari Aditya, 6, siswa TK Pertiwi 2 Jenengan Kecamatan Sawit.
Selain kegiatan meminum susu serentak, pada hari itu juga digelar lomba-lomba, di antaranya hafalan surat pendek, lomba membaca puisi, dan lomba mewarnai kaligrafi. 


Panwaslu Batalkan Kampanye Toto di RSUD Banyudono


Anggota staf Komisi Pemilihan Umum (KPU) Boyolali menata bahan kampanye pasangan calon bupati dan wakil bupati (cabup cawabup) Seno Samodro-Said Hidayat dan Agus Purmanto-Sugiyarto di Kantor KPU Boyolali, Kamis (3/9/2015). Bahan kampanye itu segera didistribusikan kepada masing-masing tim sukses. (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos)

Solopos.com, BOYOLALI–Rencana kampanye simpatik calon bupati dan wakil bupati (cabup cawabup) dari PKS, PKB, dan Gerindra, Agus Purmanto-Sugiyarto (Toto) di RSUD Banyudono, Rabu (7/10/2015), berhasil dicegah Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Boyolali. Panwaslu menilai kampanye di ruang publik milik pemerintah akan berpotensi melanggar aturan main kampanye.
“Tadi pagi sebelum kampanye dimulai, kami sudah mengingatkan kalau rumah sakit umum tidak boleh menjadi lokasi kampanye,” kata Ketua Panwaslu Boyolali, Narko Nugroho, saat ditemui Solopos.com, di ruang kerjanya, Rabu. Selain rumah sakit, kantor pemerintah, sekolah, dan tempat ibadah juga menjadi lokasi yang dilarang untuk kegiatan kampanye.
“Ya, dari tim sukses akhirnya membatalkan kampanye di RSUD. Tim sukses dan cabup Agus Purmanto akhirnya berkampanye di Pasar Ngancar, Banyudono, dan Pasar Pengging,” imbuh Narko.
Ketua Tim Pemenangan Agus Purmanto-Sugiyarto, Singgih Anwar Fuadi, membenarkan rencananya Agus Purmanto berkampanye di tiga lokasi yakni Pasar Ngancar, RSUD Banyudono, dan Pasar Pengging. Untuk selanjutnya mereka akan blusukan ke desa-desa.
“Tapi yang di RSUD Banyudono kami batalkan,” kata Singgih. Mereka memilih mengikuti saran dari Panwaslu daripada harus menabrak aturan main kampanye.


Naik Angkutan Umum, Tersangka Untung Serahkan Diri ke Mapolsek Banyudono

Muhammad Untung, menyerahkan diri ke Mapolsek Banyudono setelah membunuh Dodi Mulyanto di sekitar subterminal Bangak, Banyudono, Boyolali, Kamis (11/5/2015) dini hari
Pembunuhan Boyolali, tersangka Muhammad Untung menyerahkan diri ke Mapolsek Banyudono setelah mengetahui korban tewas ditusuk menggunakan pisau dapur.
Solopos.com, BOYOLALI–Tersangka pembunuhan terhadap Dodi Mulyanto, 28, warga Dukuh Karang Kulon RT 001/RW 003, Desa Cangkringan, Kecamatan Banyudono, Muhammad Untung, langsung menyerahkan diri ke Mapolsek Banyudono, setelah mengetahui korban tewas bersimbah darah.
Sebelumnya, kasus tersebut bermula saat Untung didatangi Dodi Kamis dini hari sekitar pukul 03.30 WIB. Saat itu, Dodi datang dalam kondisi mabuk berat. Dodi mengajak Untung mabuk-mabukan dan mencari wanita malam.
“Saya tidak mau, saya kan sudah sembuh tidak mau lagi mabuk-mabukan. Dia malah marah-marah sama saya, saya dikata-katain jelek,” kata Untung, yang selama ini sering numpang tinggal dan tidur di musala yang ada di subterminal Bangak itu.
Tidak hanya cekcok, Untung juga mengatakan Dodi telah memulai perkelahian dengan memukul dadanya.
“Dia memukul saya duluan. Ya wajar saya marah. Akhirnya saya ambil pisau, saya tusuk dadanya sebelah kiri,” kata dia, di Mapolsek Banyudono.
Pukul 05.30 WIB, kawasan subterminal Bangak mulai ramai. Tukang ojek mulai berdatangan. Mengetahui kejadian tersebut, sejumlah tukang ojek pun melaporkanya ke Polsek Banyudono.
Tersangka pun akhirnya menuju Polsek untuk menyerahkan diri. Dia ke Mapolsek Banyudono dengan naik angkutan umum. “Ya, tadi pelaku datang sendiri menyerahkan diri ke polsek,” kata Kapolres Boyolali, AKBP Budi Sartono, melalui Kapolsek Banyudono, AKP Wahidin.
Dari kejadian itu, selain menahan pelaku, petugas juga menyita sebilah pisau dapur dan sepeda motor korban.
Untung yang langsung ditetapkan sebagai tersangka dikenakan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana jo Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan atau Pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan tewasnya seseorang.




Pabrik Tekstil di Banyudono Terbakar, Diduga Akibat Korsleting


Kebakaran Boyolali terjadi di Desa Batan, Banyudono.
Solopos.com, BOYOLALI–Sebuah pabrik tekstil di Desa Batan, Kecamatan Banyudono, Boyolali, dilalap si jago merah, Sabtu (11/6/2016) malam, sekitar pukul 22.30 WIB. Sedikitnya empat mobil pemadam kebakaran (Damkar) dari wilayah Boyolali dan Solo diterjunkan untuk memadamkan api yang melalap pabrik tersebut.
Data yang dihimpun Solopos.com, Minggu (12/6/2016) di Mapolsek Banyudono, kebakaran diduga kuat karena korsleting. Pasalnya, beberapa jam sebelum terjadi kebakaran, aliran listrik sempat padam. Tak berselang lama setelah listrik kembali mengalir sekitar pukul 22.00 WIB, mendadak mencul kobaran api di dalam pabrik.
Salah seorang saksi mata, Siman, 55, mengaku melihat kobaran api kecil kali pertama terlihat di pabrik bagian belakang. Petugas keamanan itu lantas mengeceknya dan melihat kobaran api terjadi di tumpukan kain perca serta sisa-sisa ban mobil.
“Api lantas cepat membesar membakar sisa-sisa kain dan sisa ban di gudang bagian belakang,” ujarnya saat dimintai keterangan petugas Polsek Banyudono di lokasi kejadian.
Keterangan tersebut juga dibenarkan oleh saksi lainnya yang juga karyawan setempat, Iin Kusumastuti, 45. Warga Perum Ngaru Aru RT 001/003, Desa Ngaru Aru, Kecamatan Banyudono, itu mengatakan kebakaran kali pertama terjadi di bagian belakang pabrik.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun petugas Polsek Banyudono, kebakaran diduga kuat terjadi karena terjadinya hubungan arus pendek atau korsleting. Pasalnya, api melalap pabrik tak berselang lama setelah terjadi pemadaman listrik. “Setelah listrik mengalir lagi, terjadi kebakaran. Diduga kuat terjadi korsleting. Api menyahut sisa-sisa kain dan ban bekas lalu terbakar,” ujar petugas piket Polsek Banyudono, Aiptu Sugiharto.
Sedikitnya, empat mobil pemadam kebakaran (Damkar) dari Kota Solo dan Boyolali diterjunkan untuk menjinakkan si jago merah. Api berhasil dipadamkan Minggu (12/6/2016) dini hari sekitar pukul 02.45 WIB. Tak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Kerugian ditaksir hanya mencapai belasan juta.
“Di dalam pabrik hanya ada kain perca dan ban bekas. Jadi tak ada kerugian berarti. Pabrik juga dari tembok,” paparnya.
Menurut keterangan para saksi, imbuh Sugiharto, ketika terjadi kebakaran sang pemilik pabrik, Ali Handoyo, tengah berada di Kalimantan sejak beberapa waktu lalu. Pabrik tersebut juga diketahui sudah tak beroperasi dalam beberapa waktu terakhir. “Persisnya kapan [pabrik tak beroperasi] saya belum tahu. Yang jelas, kondisi pabrik hanya berisi kain dan ban bekas,” ujarnya.


Polisi Banyudono Boyolali Ini Nyambi Jualan Telur Asin di HIK


Kisah inspiratif ini datang dari polisi di Polsek Banyudono Boyolali.
Solopos.com, BOYOLALI —  Barang kali tak banyak seorang polisi yang mau berjualan di warung makan kecil di sela-sela tugas negaranya. Aiptu Sugiharto salah satunya. Pria kelahiran 43 tahun silam ini, mengaku tak malu harus berjualan telur asin di warung-warung hik di kampung halamannya, Desa Sambi, Kecamatan Sambi. Aktivitas yang ia lakoni sejak lima bulan lalu itu, semata-mata untuk mencari uang tambahan dengan cara yang halal.
“Anak saya sudah empat. Semuanya masih sekolah dan butuh biaya semua. Makanya saya pingin bisa membantu istri dengan berjualan telur asin di warung-warung hik,” kisah pria yang sehari-harinya bertugas di sentra pelayanan kepolisian (SPK) Polsek Banyudono itu saat berbincang dengan Solopos.com di Mapolsek Banyudono, Minggu (3/7/2016).
Siang itu, Sugiharto masih berseragam polisi. Sesekali ia mengintip ponselnya dan membalas pesan yang masuk. “Maaf saya sambi ya? Jelang Lebaran, saya banyak pesanan [telur asin],” ujarnya.
Sugiharto berjualan telur benar-benar dilakoni sendiri tanpa bantuan. Sesekali, kedua anaknya yang duduk di bangku SMA, Aska dan Azka membantu mencuci telur sepulang sekolah. Pria yang lama bertugas di Polres Brebes itu mengaku tak ingin menambah beban istrinya sebagai ibu rumah tangga.“Istri saya sudah mengurusi anak dan rumah. Saya enggak mau menambah beban istri. Ngurus rumah tangga dan anak itu sudah berathlo,” ujarnya.
Tiga hari sekali, Sugiharto kulakan telur di Banyudono. Setelah itu, ia mencuci telur-telur, lalu menggarami, dan merebusnya hingga matang. Jika sudah matang, maka Sugiharto akan menjelma pedagang keliling. Ia tanggalkan seragam polisinya. Lalu, ia mendatangi satu persatu warung hik di wilayah Kecamatan Sambi untuk dititipi telur. Jika laris, dua hari sudha habis. Tapi, jika sepi ya tiga hari baru habis.
“Setiap butir telur yang terjual di warung hik, saya dapat untung Rp300. Biasanya dua hari sekali saya ambil uangnya,” paparnya yang sehari-hari berangkat kerja naik sepeda motor dinas.
Dalam sekali rebusan, Sugiharto bisa memasak 300 butir telur. Telur-telur itu biasanya habis terjual dalam tiga hari sekali. Keuntungannya memang tak terlalu banyak, yakni Rp90.000/ tiga hari. Namun, Sugiharto sangat bersyukur karena uang itu didapatkan dengan cara halal. “Enggak banyak enggak apa-apa, yang penting berkah,” akunya penuh sahaja.
Bripka Hariana, anggota Polsek Banyudono, mengaku salut dengan langkah yang dilakoni Sugiharto. Polisi yang terkesan dengan cita rasa telur asin buatan Sugiharto itu mengaku ingin bisa meniru jejak langkah Sugiharto. “Di sini [Boyolali] mungkin hanya Pak Sugiharto yang sabar memasak telur asin dan menjajakan sendiri di warung-warung hik,” katanya.



Ini Alasan Olah Data BPJS Kesehatan Masih Dilakukan di RSUD Banyudono


Infrastruktur Boyolali, jaringan Internet menjadi kendala operasional RSUD Banyudono di Andong.
Solopos.com, BOYOLALI–Belum tersedianya jaringan internet di RSUD Banyudono di Andong menghambat proses pengolahan data administrasi.
Pengolahanan data khususnya terkait layanan jaminan kesehatan seperti Badan Penyedia Jaminan Sosial (BPJS), keuangan, dan data pemakaian obat pasien, masih harus dilakukan di gedung RSUD Banyudono yang lama yang berada di Banyudono.
Kondisi ini menyebabkan petugas yang bertugas mengolah data-data tersebut lewat komputer harus bolak-balik Andong-Banyudono.
Salah satu petugas, Slamet, membenarkan hal ini. Data yang masuk di RSUD di Andong, diambil oleh petugas kemudian di bawa ke kantor di Banyudono untuk diinput dan kemudian di olah di komputer. “Ya, memang harus bolak-balik,” kata Slamet, saat ditemui wartawan, Kamis (28/7/2016).
Petugas lainnya, Eko, juga masih terlihat sibuk mengerjakan beberapa pekerjaan administrasi di rumah sakit di Banyudono. “Ini mengolah data pengeluaran obat untuk pasien. Seluruh jaringan komputer masih ada di sini karena jaringan internet di Andong belum ada,” ujar Eko.
Kasi Peningkatan RSUD Andong, M. Aksin, membenarkan masih ada petugas yang bertugas di gedung rumah sakit di Banyudono.
“Ya, masih ada sekitar enam petugas yang bertugas di Banyudono. Selain olah data beberapa juga masih ada yang bertugas menjaga beberapa peralatan yang masih ada di sana, seperti alat radiologi, genset, dan perlengkapan IT serta komputer,” atau Aksin.
Dia membenarkan seluruh pengolahan data masih dilakukan kantor rumah sakit yang lama karena jaringan internet belum masuk ke RSUD di Andong. Pendataan pasien dan administrasi lainnya di Andong, masih dilakukan manual.
RSUD Banyudono di Andong mulai membuka pelayanan Rabu (27/7/2016). Kendati demikian, Askin mengakui masih banyak persiapan yang harus dilakukan agar rumah sakit itu menjadi tempat yang nyaman untuk berobat bagi warga sakit.  Pasien masih terganggu suara bising dari proyek yang masih berlangsung.
Pihak rumah sakit juga belum siap melayani rawat inap. Meskipun sudah tersedia bed untuk kelas III, namun pihak rumah sakit baru membuka layanan rawat jalan.


RSUD di Andong Masih Gunakan Nama Banyudono, Pemkab Kaji Perubahan Nama


Layanan kesehatan Boyolali, Pemkab masih mengkaji perubahan nama RSUD di Andong.
Solopos.com, BOYOLALI–Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali saat ini masih menelaah dan mempersiapkan perubahan nama untuk RSUD Banyudono yang saat ini sudah direlokasi ke Desa Sugihan, Kecamatan Andong.
Meskipun sudah berpindah ke Andong, nama resmi rumah sakit milik Pemkab Boyolali tetap RSUD Banyudono. Nama RSUD Banyudono awalnya mengacu pada lokasi rumah sakit yang sebelumnya berada di wilayah Kecamatan Banyudono.
“Untuk saat ini namanya tetap RSUD Banyudono. Kami sedang mempersiapkan untuk perubahan nama, ini baru kami telaah, namun kalau merubah nama tentu akan mengulang kembali proses perizinannya,” kata Direktur RSUD Banyudono, Istirochah, saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (5/8/2016).
Menurut Istirochah, nama baru untuk rumah sakit di Andong belum ditentukan. Meskipun Bupati Boyolali Seno Samodro sudah mengantongi beberapa nama alternatif, namun nama-nama itu harus ditelaah lebih lanjut. Sedangkan untuk perizinan ulang operasional rumah sakit di Andong, dia akan mengacu Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No.56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit.
“Proses perubahan dan perizinan ini baru kami persiapkan. Kami masih fokus menyelesaikan pembangunan dan menata seluruh layanan yang ada di sini [Andong],” ujar dia.
Pada bagian lain, RSUD Banyudono juga baru saja mengusulkan rancangan peraturan daerah (raperda) tentang tarif pelayanan kesehatan kelas III pada RSUD Banyudono. Ranperda tersebut selesai dibahas Kamis (4/8/2016) kemarin. Meskipun sempat dipertanyakan, legislatif dan eksekutif sepakat perda tersebut tetap memakai nama RSUD Banyudono.
“Ya, pada perda tentang tarif itu juga masih pakai nama Banyudono.”
RSUD Banyudono di Andong sudah beroperasi hampir dua pekan. Di awal operasional, RSUD Banyudono hanya membuka layanan rawat jalan. Bahkan pelayanan administrasi Badan Penyedia Jaminan Sosial (BPJS) masih dilakukan di rumah sakit lama di Banyudono.
“Untuk saat ini kami sudah mulai membuka layanan rawat jalan. Memang belum semuanya, baru kelas I dan III,” kata Istirochah. Jumlah bed yang sudah tersedia untuk kelas I dan III sebanyak 36 bed. Selain itu, juga sudah ada layanan kamar untuk praktik kebidanan.


Warga Diimbau Tak Percaya "Hantu" Bidan RSUD Banyudono

Solopos.com, BOYOLALI– Nitizen warga Boyolali dihebohkan cerita mistis tentang kemunculan bidan “kuntilanak” yang membantu persalinan di RSUD Banyudono yang kini telah dikosongkan.

Hingga saat ini, belum ada yang bisa memastikan siapa ibu yang melahirkan di rumah sakit tersebut. Ada yang menyebut warga Kecamatan Mojosongo, warga Teras, Sambi, bahkan ada yang menyebut orang Sawit.
Netizen ada yang mengaku kenal dengan ibu tersebut. Namun, kata Netizen di grup FB Boyolali, ibu tersebut enggan menceritakan kisah tersebut karena khawatir menimbulkan khurafat.

Selain itu juga belum diketahui siapa yang kali pertama menyebarkan berita tersebut dan mengkaitkan dengan kondisi rumah sakit Banyudono yang selama ini memang dikenal angker.
Kepala Desa Kuwiran, Kecamatan Banyudono, Heri Sarwo Edie, mendapatkan informasi terkait cerita mistis di bekas RSUD Banyudono dari media sosial. Dia mempertanyakan kebenaran cerita tersebut karena warga di sekitar rumah sakit justru tidak tahu apa-apa.

Di satu sisi, cerita mistis di rumah sakit yang berlokasi di sisi selatan Jl.Solo-Semarang itu tidak hanya terkait dengan persalinan yang katanya dibantu kuntilanak.
“Bahkan katanya pernah ada anak yang dikhitan oleh makhluk halus di rumah sakit tersebut,” kata Heri kepada Solopos.com.

Direktur RSUD Banyudono, Istirochah, mengatakan sejak relokasi ke Andong per 15 Juli lalu, operasional pelayanan kesehatan di Banyudono sudah berhenti total.
“Kalau soal isu persalinan yang katanya dibantu kuntilanak, saya ndak percaya. Apalagi sampai saat ini tidak ada laporan yang aneh-aneh dari penjaga rumah sakit yang masih bertugas di sana,” kata Istirochah, saat dihubungi, Jumat (26/8/2016).

Dia menganggap cerita tersebut hanya guyonan karena hingga saat ini juga tidak ada orang yang mengaku melahirkan di rumah sakit tersebut.
“Siapa orangnya juga tidak jelas,” kata Istirochah.
Camat Banyudono, Rita Puspitasari, awalnya tidak tahu menahu soal cerita mistis tersebut. Dia meminta masyarakat tidak langsung percaya.
“Apalagi sampai sekarang tidak jelas siapa yang melahirkan di sana, penjaga rumah sakit juga katanya tidak tahu apa-apa,” kata Rita.